Belajar Sejarah/Materi Pembelajaran Kelas 10 Bab 1
Bab I
Menelusuri
Peradaban Awal di
Kepulauan Indonesia
Indonesia terletak di persimpangan tiga lempeng benua – ketiganya
bertemu di sini – menciptakan tekanan sangat besar pada lapisan kulit
bumi. Akibatnya, lapisan kulit bumi di wilayah ini terdesak ke atas,
membentuk paparan-paparan yang luas dan beberapa pegunungan
yang sangat tinggi. Seluruh wilayah ini sangat rentan terhadap
gempa bumi hebat dan letusan gunung berapi dahsyat yang kerap
mengakibatkan kerusakan parah. Hal ini terlihat dari beberapa
catatan geologis. Gempa bumi dan tsunami mengerikan yang
dialami Aceh belum lama ini hanyalah episode terakhir dari seluruh
rangkaian peristiwa panjang dalam masa prasejarah dan sejarah.
(Arysio Santos, 2010)
A.MENGENAL MANUSIA PURBA
Manusia purba tidak mengenal tulisan dalam kebudayaannya.
Periode kehidupan ini dikenal dengan zaman pra-aksara. Masa praaksara
berlangsung sangat lama jauh melebihi periode kehidupan
manusia yang sudah mengenal tulisan. Oleh karena itu, untuk
dapat memahami perkembangan kehidupan manusia pada zaman
pra-aksara kita perlu mengenali tahapan-tahapannya.
Pada masa Paleozoikum (masa kehidupan tertua) keadaan
geografis Kepulauan Indonesia belum terbentuk seperti sekarang ini.
Di kala itu wilayah ini masih merupakan bagian dari samudra yang
sangat luas, meliputi hampir seluruh bumi. Pada fase berikutnya,
yaitu pada akhir masa Mesozoikum, sekitar 65 juta tahun lalu,
kegiatan tektonis itu menjadi sangat aktif menggerakkan lempenglempeng
Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kegiatan ini dikenal
sebagai fase tektonis (orogenesa larami), sehingga menyebabkan
daratan terpecah-pecah. Benua Eurasia menjadi pulau-pulau yang
terpisah satu dengan lainnya. Sebagian di antaranya bergerak ke
selatan membentuk pulau-pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi serta pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Kepulauan
Banda. Hal yang sama juga terjadi pada Benua Australia. Sebagian
pecahannya bergerak ke utara membentuk pulau-pulau Timor,
Kepulauan Nusa Tenggara Timur dan sebagian Maluku Tenggara.
Pergerakan pulau-pulau hasil pemisahan dari kedua benua tersebut
telah mengakibatkan wilayah pertemuan keduanya sangat labil.
Kegiatan tektonis yang sangat aktif dan kuat telah membentuk
rangkaian Kepulauan Indonesia pada masa Tersier sekitar 65 juta
tahun lalu.
Sebagian besar daratan Sumatra, Kalimantan dan Jawa telah
tenggelam menjadi laut dangkal sebagai akibat terjadinya proses
kenaikan permukaan laut atau transgresi. Sulawesi pada masa itu
sudah mulai terbentuk, sementara Papua sudah mulai bergeser
ke utara, meski masih didominasi oleh cekungan sedimentasi laut
dangkal berupa paparan dengan terbentuknya endapan batu
gamping. Pada kala Pliosen sekitar lima juta tahun lalu, terjadi
pergerakan tektonis yang sangat kuat, yang mengakibatkan
terjadinya proses pengangkatan permukaan bumi dan kegiatan
vulkanis. Ini pada gilirannya menimbulkan tumbuhnya (atau mungkin
lebih tepat terbentuk) rangkaian perbukitan struktural seperti
perbukitan besar (gunung), dan perbukitan lipatan serta rangkaian
gunung api aktif sepanjang gugusan perbukitan itu. Kegiatan
tektonis dan vulkanis terus aktif hingga awal masa Pleistosen, yang
dikenal sebagai kegiatan tektonis Plio-Pleistosen. Kegiatan tektonis
ini berlangsung di seluruh Kepulauan Indonesia.
Gunung api aktif dan rangkaian perbukitan struktural tersebar
di sepanjang bagian barat Pulau Sumatra, berlanjut ke sepanjang
Pulau Jawa ke arah timur hingga Kepulauan Nusa Tenggara serta
Kepulauan Banda. Kemudian terus membentang sepanjang Sulawesi
Selatan dan Sulawesi Utara. Pembentukan daratan yang semakin
luas itu telah membentuk Kepulauan Indonesia pada kedudukan
pulau-pulau seperti sekarang ini. Hal itu telah berlangsung sejak kala
Pliosen hingga awal Pleistosen (1,8 juta tahun lalu). Jadi pulau-pulau
di kawasan Kepulauan Indonesia ini masih terus bergerak secara
dinamis, sehingga tidak heran jika masih sering terjadi gempa, baik
vulkanis maupun tektonis.
Letak Kepulauan Indonesia yang berada pada deretan gunung
api membuatnya menjadi daerah dengan tingkat keanekaragaman
flora dan fauna yang sangat tinggi. Kekayaan alam dan kondisi
geografis ini telah mendorong lahirnya penelitian dari bangsabangsa
lain. Dari sekian banyak penelitian terhadap flora dan fauna
tersebut yang paling terkenal di antaranya adalah penelitian Alfred
Russel Wallace yang membagi Indonesia dalam dua wilayah yang
berbeda berdasarkan ciri khusus baik fauna maupun floranya.
Pembagian itu adalah Paparan Sahul di sebelah timur, Paparan
Sunda di sebelah barat. Zona di antara paparan tersebut kemudian
dikenal sebagai wilayah Wallacea yang merupakan pembatas fauna
yang membentang dari Selat Lombok hingga
Selat Makassar ke arah utara. Fauna-fauna
yang berada di sebelah barat garis pembatas itu
disebut dengan Indo-Malayan region. Di sebelah
timur disebut dengan Australia Malayan region.
Garis itulah yang kemudian kita kenal dengan
Garis Wallacea.
Merujuk pada tarikh bumi di atas, keberadaan manusia di
muka bumi dimulai pada zaman Quater sekitar 600.000 tahun lalu
atau disebut juga zaman es. Dinamakan zaman es karena selama itu
es dari kutub berkali-kali meluas sampai menutupi sebagian besar
permukaan bumi dari Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara
Peristiwa itu terjadi karena panas bumi tidak tetap, adakalanya naik
dan adakalanya turun. Jika ukuran panas bumi turun dratis maka
es akan mencapai luas yang sebesar-besarnya dan air laut akan
turun atau disebut zaman Glacial. Sebaliknya jika ukuran panas
naik, maka es akan mencair, dan permukaan air laut akan naik yang
disebut zaman Interglacial. Zaman Glacial dan zaman Interglacial ini
berlangsung silih berganti selama zaman Diluvium (Pleistosen). Hal
ini menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia, yang
kemudian mempengaruhi keadaan bumi serta kehidupan yang ada
diatasnya termasuk manusia, sedangkan zaman Alluvium (Holosen)
berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu hingga sekarang ini.
Untuk memperkaya
pengetahuan tentang hal
ini, kamu bisa membaca
buku Alfred Russel Wallace.
1. Sangiran
Perjalanan kisah perkembangan manusia di Kepulauan
Indonesia tidak dapat kita lepaskan dari keberadaan bentangan luas
perbukitan tandus yang berada di perbatasan Kabupaten Sragen
dan Kabupaten Karanganyar. Lahan itu dikenal dengan nama Situs
Sangiran. Di dalam buku Harry Widianto dan Truman Simanjuntak,
Sangiran Menjawab Dunia diterangkan bahwa Sangiran merupakan
sebuah kompleks situs manusia purba dari Kala Pleistosen yang
paling lengkap dan paling penting di Indonesia, dan bahkan di
Asia. Lokasi tersebut merupakan pusat perkembangan manusia
dunia, yang memberikan petunjuk tentang keberadaan manusia
sejak 150.000 tahun yang lalu. Situs Sangiran itu mempunyai luas
delapan kilometer pada arah utara-selatan dan tujuh kilometer
arah timur-barat. Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa
yang berupa cekungan besar di pusat kubah akibat adanya erosi di
bagian puncaknya. Kubah raksasa itu diwarnai dengan perbukitan
yang bergelombang. Kondisi deformasi geologis itu menyebabkan
tersingkapnya berbagai lapisan batuan yang mengandung fosil-fosil
manusia purba dan binatang, termasuk artefak. Berdasarkan materi
tanahnya, Situs Sangiran berupa endapan lempung hitam dan pasir
fluvio-vulkanik, tanahnya tidak subur dan terkesan gersang pada
musim kemarau.
Sangiran pertama kali ditemukan dan diteliti
oleh P.E.C. Schemulling tahun 1864, dengan laporan
penemuan fosil vertebrata dari Kalioso, bagian dari
wilayah Sangiran. Semenjak dilaporkan Schemulling
situs itu seolah-olah terlupakan dalam waktu yang
lama. Eugene Dubois juga pernah datang ke Sangiran,
akan tetapi ia kurang tertarik dengan temuan-temuan
di wilayah Sangiran. Pada 1934, Gustav Heindrich
Ralph von Koeningswald menemukan artefak litik
di wilayah Ngebung yang terletak sekitar dua km di
barat laut kubah Sangiran. Artefak litik itulah yang
kemudian menjadi temuan penting bagi Situs Sangiran.
Semenjak penemuan von Koeningswald, Situs Sangiran
menjadi sangat terkenal berkaitan dengan penemuanpenemuan
fosil Homo erectus secara sporadis dan
berkesinambungan. Homo erectus adalah takson paling
penting dalam sejarah manusia, sebelum masuk pada
tahapan manusia Homo sapiens, manusia modern.
Situs Sangiran tidak hanya memberikan
gambaran tentang evolusi fisik manusia saja,
akan tetapi juga memberikan gambaran nyata
tentang evolusi budaya, binatang, dan juga
lingkungan. Beberapa fosil yang ditemukan dalam
seri geologis-stratigrafis yang diendapkan tanpa
terputus selama lebih dari dua juta tahun,
menunjukkan tentang hal itu. Situs Sangiran telah
diakui sebagai salah satu pusat evolusi manusia di
dunia. Situs itu ditetapkan secara resmi sebagai
Warisan Dunia pada 1996, yang tercantum dalam
nomor 593 Daftar Warisan Dunia (World Heritage
List) UNESCO.
Perhatikan baik-baik gambar fosil
manusia purba di samping, fosil itu juga disebut
sebagai Sangiran 17 sesuai dengan nomor seri
penemuannya. Fosil itu merupakan fosil Homo
erectus yang terbaik di Sangiran. Ia ditemukan di
endapan pasir fluvio-volkanik di Pucang, bagian
wilayah Sangiran. Fosil itu merupakan dua di
antara Homo erectus di dunia yang masih lengkap
dengan mukanya. Satu ditemukan di Sangiran dan
satu lagi di Afrika.
2. Trinil, Ngawi, Jawa Timur
Sebelum penemuannya di Trinil, Eugene Dubois mengawali
temuan Pithecantropus erectus di Desa Kedungbrubus, sebuah desa
terpencil di daerah Pilangkenceng, Madiun, Jawa Timur. Desa itu
berada tepat di tengah hutan jati di lereng selatan Pegunungan
Kendeng. Pada saat Dubois meneliti dua horizon/lapisan berfosil
di Kedungbrubus ditemukan sebuah fragmen rahang yang pendek
dan sangat kekar, dengan sebagian prageraham
yang masih tersisa. Prageraham itu menunjukkan
ciri gigi manusia bukan gigi kera, sehingga diyakini
bahwa fragmen rahang bawah tersebut milik
rahang hominid. Pithecantropus itu kemudian
dikenal dengan Pithecantropus A.
Trinil adalah sebuah desa di
pinggiran Bengawan Solo, masuk wilayah
administrasi Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Tinggalan purbakala telah lebih dulu ditemukan
di daerah ini jauh sebelum von Koeningswald
menemukan Sangiran pada 1934. Ekskavasi yang
dilakukan oleh Eugene Dubois di Trinil telah
membawa penemuan sisa-sisa manusia purba
yang sangat berharga bagi dunia pengetahuan.
Penggalian Dubois dilakukan pada endapan alluvial
Bengawan Solo. Dari lapisan ini ditemukan atap
tengkorak Pithecanthropus erectus, dan beberapa
buah tulang paha (utuh dan fragmen) yang
menunjukkan pemiliknya telah berjalan tegak.
Tengkorak Pithecanthropus erectus dari Trinil
sangat pendek tetapi memanjang ke belakang.
Volume otaknya sekitar 900 cc, di antara otak kera
(600 cc) dan otak manusia modern (1.200-1.400
cc). Tulang kening sangat menonjol dan di bagian
belakang mata, terdapat penyempitan yang sangat
jelas, menandakan otak yang belum berkembang.
Pada bagian belakang kepala terlihat bentuk yang
meruncing yang diduga pemiliknya merupakan
perempuan. Berdasarkan kaburnya sambungan perekatan
antartulang kepala, ditafsirkan inividu ini telah mencapai usia
dewasa.
Selain tempat-tempat di atas, peninggalan manusia purba tipe
ini juga ditemukan di Perning, Mojokerto, Jawa Timur; Ngandong,
Blora, Jawa Tengah; dan Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah.
Temuan berupa tengkorak anak-anak berusia sekitar 5 tahun oleh
penduduk yang sedang membantu penelitian Koeningswald dan
Duyfjes perlu untuk dipertimbangkan. Temuan itu menjadi bahan
diskusi yang menarik bagi para ilmuwan. Metode pengujian
penanggalan potasium-argon yang digunakan oleh Tengku Jakob
dan Curtis terhadap batu apung yang terdapat disekitar fosil
tengkorak itu menunjukkan angka 1,9 atau kurang lebih 0,4
juta tahun. Pengujian juga dilakukan dengan mengambil sampel
endapan batu apung dari dalam tengkorak dan menunjukkan
angka 1,81 juta tahun. Hasil uji penanggalan-penanggalan tersebut
menjadi perdebatan para ahli dan perlu untuk dikaji lebih lanjut.
Bila penanggalan itu benar, maka tengkorak anak Homo erectus
dari Perning, Mojokerto ini merupakan individu Homo erectus tertua
di Indonesia. Adakah diantara kamu yang tertarik untuk melakukan
pengujian ini?
Temuan Homo erectus juga ditemukan di Ngandong, yaitu
sebuah desa di tepian Bengawan Solo, Kabupaten Blora, Jawa
Tengah. Tengkorak Homo erectus Ngandong berukuran besar
dengan volume otak rata-rata 1.100 cc. Ciri-ciri ini menunjukkan
Homo erectus ini lebih maju bila dibandingkan dengan Homo
erectus yang ada di Sangiran. Manusia Ngandong diperkirakan
berumur antara 300.000-100.000 tahun.
Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan oleh para
ahli, dapatlah direkonstruksi beberapa jenis manusia purba yang
pernah hidup di zaman pra-aksara.
B.JENIS JENIS MANUSIA PURBA
1. Jenis Meganthropus
Jenis manusia purba ini terutama berdasarkan penelitian
von Koeningswald di Sangiran tahun 1936 dan 1941 yang
menemukan fosil rahang manusia yang berukuran besar. Dari
hasil rekonstruksi ini kemudian para ahli menamakan jenis
manusia ini dengan sebutan Meganthropus paleojavanicus,
artinya manusia raksasa dari Jawa. Jenis manusia purba
ini memiliki ciri rahang yang kuat dan badannya tegap.
Diperkirakan makanan jenis manusia ini adalah tumbuhtumbuhan.
Masa hidupnya diperkirakan pada zaman
Pleistosen Awal.
2. Jenis Pithecanthropus
Jenis manusia ini didasarkan pada penelitian Eugene
Dubois tahun 1890 di dekat Trinil, sebuah desa di pinggiran
24 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Edisi Revisi Semester 1
Bengawan Solo, di wilayah Ngawi. Setelah
direkonstruksi terbentuk kerangka manusia, tetapi
masih terlihat tanda-tanda kera. Oleh karena
itu jenis ini dinamakan Pithecanthropus erectus,
artinya manusia kera yang berjalan tegak. Jenis
ini juga ditemukan di Mojokerto, sehingga disebut
Pithecanthropus mojokertensis. Jenis manusia
purba yang juga terkenal sebagai rumpun Homo
erectus ini paling banyak ditemukan di Indonesia.
Diperkirakan jenis manusia purba ini hidup dan
berkembang sekitar zaman Pleistosen Tengah.
3. Jenis Homo
Fosil jenis Homo ini pertama diteliti oleh
von Reitschoten di Wajak. Penelitian dilanjutkan
oleh Eugene Dubois bersama kawan-kawan
dan menyimpulkan sebagai jenis Homo. Ciri-ciri
jenis manusia Homo ini muka lebar, hidung dan
mulutnya menonjol. Dahi juga masih menonjol,
sekalipun tidak semenonjol jenis Pithecanthropus.
Bentuk fisiknya tidak jauh berbeda dengan
manusia sekarang. Hidup dan perkembangan jenis
manusia ini sekitar 40.000 – 25.000 tahun yang
lalu. Tempat-tempat penyebarannya tidak hanya
di Kepulauan Indonesia tetapi juga di Filipina dan
Cina Selatan.
Homo sapiens artinya ‘manusia sempurna’ baik dari segi fisik,
volume otak maupun postur badannya yang secara umum tidak
jauh berbeda dengan manusia modern. Kadang-kadang Homo
sapiens juga diartikan dengan ‘manusia bijak’ karena telah lebih
maju dalam berpikir dan menyiasati tantangan alam. Bagaimanakah
mereka muncul ke bumi pertama kali dan kemudian menyebar
dengan cepat ke berbagai penjuru dunia hingga saat ini? Para ahli
paleoanthropologi dapat melukiskan perbedaan morfologis antara
Uraian mengenai jenis-jenis
manusia ini selengkapnya
dapat juga dibaca pada buku
Harry Widianto dan Truman
Simanjuntak,
Homo sapiens dengan pendahulunya, Homo erectus. Rangka Homo
sapiens kurang kekar posturnya dibandingkan Homo erectus.
Salah satu alasannya karena tulang belulangnya tidak setebal dan
sekompak Homo erectus.
Hal ini mengindikasikan bahwa secara
fisik Homo sapiens jauh lebih lemah dibanding
sang pendahulu tersebut. Di lain pihak, ciri-ciri
morfologis maupun biometriks Homo sapiens
menunjukkan karakter yang lebih berevolusi
dan lebih modern dibandingkan dengan Homo
erectus. Sebagai misal, karakter evolutif yang
paling signifikan adalah bertambahnya kapasitas
otak. Homo sapiens mempunyai kapasitas otak
yang jauh lebih besar (rata-rata 1.400 cc), dengan
atap tengkorak yang jauh lebih bundar dan lebih
tinggi dibandingkan dengan Homo erectus yang
mempunyai tengkorak panjang dan rendah,
dengan kapasitas otak 1.000 cc.
Segi-segi morfologis dan tingkatan
kepurbaannya menunjukkan ada perbedaan
yang sangat nyata antara kedua spesies dalam genus Homo
tersebut. Homo sapiens akhirnya tampil sebagai spesies yang sangat
tangguh dalam beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan
cepat menghuni berbagai permukaan dunia ini.
Berdasarkan bukti-bukti penemuan, sejauh ini manusia
modern awal di Kepulauan Indonesia dan Asia Tenggara paling tidak
telah hadir sejak 45.000 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya,
kehidupan manusia modern ini dapat dikelompokkan dalam tiga
tahap, yaitu (i) kehidupan manusia modern awal yang kehadirannya
hingga akhir zaman es (sekitar 12.000 tahun lalu), kemudian
dilanjutkan oleh (ii) kehidupan manusia modern yang lebih
belakangan, dan berdasarkan karakter fisiknya dikenal sebagai
ras Austromelanesoid. (iii) mulai di sekitar 4000 tahun lalu muncul
penghuni baru di Kepulauan Indonesia yang dikenal sebagai
penutur bahasa Austronesia. Berdasarkan karakter fisiknya, makhluk
manusia ini tergolong dalam ras Mongolid.
Beberapa spesimen (penggolongan) manusia Homo sapiens
dapat dikelompokkan sebagai berikut,
Uji Kompetensi
C.Asal Usul dan Persebaran Nenek Moyang
Bangsa Indonesia
Coba kamu cermati banyaknya suku bangsa di Indonesia
memunculkan keberagaman bahasa daerah, dan kebudayaan yang
berlaku dalam praktek-praktek kehidupan sehari-hari. Bayangkan
saja ada lebih dari 500 suku bangsa Indonesia, sungguh merupakan
kekayaan bangsa yang tidak dimiliki oleh negara lain. Namun
demikian kekayaan ini akan menjadi masalah jika kita tidak pandai
mengelola perbedaan yang ada. Tentu ini berkaitan pula dengan
asal mula kedatangan suku bangsa dan kapan mereka datang?
Oleh karena itu penting untuk mengetahui bagaimana proses dan
dinamika nenek moyang Indonesia sehingga terbentuk keragaman
budayanya. Untuk itu kamu harus mempelajarinya, agar kita bisa
saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada.
1. Proto Melayu
Proto Melayu diyakini sebagai nenek moyang orang Melayu
Polinesia yang tersebar dari Madagaskar sampai pulau-pulau paling
timur di Pasifik. Mereka diperkirakan datang dari Cina bagian
selatan. Ras Melayu ini mempunyai ciri-ciri rambut lurus, kulit
kuning kecoklatan-coklatan, dan bermata sipit. Dari Cina bagian
selatan (Yunan) mereka bermigrasi ke Indocina dan Siam, kemudian
ke Kepulauan Indonesia. Mereka itu mula-mula menempati pantaipantai
Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Barat. Ras
Proto Melayu membawa peradaban batu di Kepulauan Indonesia.
Ketika datang para imigran baru, yaitu Deutero Melayu (Ras Melayu
Muda). Mereka berpindah masuk ke pedalaman dan mencari tempat
baru ke hutan-hutan sebagai tempat huniannya. Ras Proto Melayu
itu pun kemudian mendesak keberadaan penduduk asli. Kehidupan
di dalam hutan-hutan menjadikan mereka terisolasi dari dunia luar,
sehingga memudarkan peradaban mereka. Penduduk asli dan ras
proto melayu itu pun kemudian melebur. Mereka itu kemudian
menjadi suku bangsa Batak, Dayak, Toraja, Alas, dan Gayo.
Kehidupan mereka yang terisolasi itu menyebabkan ras
Proto Melayu sedikit mendapat pengaruh dari kebudayaan Hindu
maupun Islam dikemudian hari. Para ras Proto Melayu itu kelak
mendapat pengaruh Kristen sejak mereka mengenal para penginjil
yang masuk ke wilayah mereka untuk memperkenalkan agama
Kristen dan peradaban baru dalam kehidupan mereka. Persebaran
suku bangsa Dayak hingga ke Filipina Selatan, Serawak, dan
Malaka menunjukkan rute perpindahan mereka dari Kepulauan
Indonesia. Sementara suku bangsa Batak yang mengambil rute ke
barat menyusuri pantai-pantai Burma dan Malaka Barat. Beberapa
kesamaan bahasa yang digunakan oleh suku bangsa Karen di Burma
banyak mengandung kemiripan dengan bahasa Batak.
2. Deutero Melayu
Deutero Melayu merupakan ras yang datang dari Indocina
bagian utara. Mereka membawa budaya baru berupa perkakas
dan senjata besi di Kepulauan Indonesia, atau Kebudayaan
Dongson. Mereka seringkali disebut juga orang-orang Dongson.
Peradaban mereka lebih tinggi daripada ras Proto Melayu. Mereka
dapat membuat perkakas dari perunggu. Peradaban mereka
ditandai dengan keahlian mengerjakan logam dengan sempurna.
Perpindahan mereka ke Kepulauan Indonesia dapat dilihat dari rute
persebaran alat-alat yang mereka tinggalkan di beberapa kepulauan
di Indonesia, yaitu berupa kapak persegi panjang. Peradaban ini
dapat dijumpai di Malaka, Sumatera, Kalimantan, Filipina, Sulawesi,
Jawa, dan Nusa Tenggara Timur.
Dalam bidang pengolahan tanah mereka mempunyai
kemampuan untuk membuat irigasi pada tanah-tanah pertanian
yang berhasil mereka ciptakan, dengan membabat hutan terlebih
dahulu. Ras Deutero Melayu juga mempunyai peradaban pelayaran
lebih maju dari pendahulunya karena petualangan mereka
sebagai pelaut dibantu dengan penguasaan mereka terhadap ilmu
perbintangan. Perpindahan ras Deutero Melayu juga menggunakan
jalur pelayaran laut. Sebagian dari ras Deutero Melayu ada yang
mencapai Kepulauan Jepang, bahkan kelak ada yang hingga sampai
Madagaskar.
Kedatangan ras Deutero Melayu di Kepulauan Indonesia
makin lama semakin banyak. Mereka pun kemudian berpindah
mencari tempat baru ke hutan-hutan sebagai tempat hunian baru.
Pada akhirnya Proto dan Deutero Melayu membaur dan selanjutnya
menjadi penduduk di Kepulauan Indonesia. Pada masa selanjutnya
mereka sulit untuk dibedakan. Proto Melayu meliputi penduduk di
Gayo dan Alas di Sumatra bagian utara, serta Toraja di Sulawesi.
Sementara itu, semua penduduk di Kepulauan Indonesia, kecuali
penduduk Papua dan yang tinggal di sekitar pulau-pulau Papua,
adalah ras Deutero Melayu.
3. Melanesoid
Ras lain yang terdapat di Kepulauan Indonesia adalah ras
Melanesoid. Mereka tersebar di lautan Pasifik di pulau-pulau yang
letaknya sebelah Timur Irian dan benua Australia. Di Kepulauan
Indonesia mereka tinggal di Papua Barat, Ambon, Maluku Utara,
dan Nusa Tenggara Timur. Bersama dengan Papua-Nugini dan
Bismarck, Solomon, New Caledonia dan Fiji, Vanuatu, mereka
tergolong rumpun Melanesoid.
Pada mulanya kedatangan Bangsa Melanesoid di Kepulauan
Indonesia berawal saat zaman es terakhir, yaitu tahun 70.000 SM.
Pada saat itu Kepulauan Indonesia belum berpenghuni. Ketika
suhu turun hingga mencapai kedinginan maksimal, air laut menjadi
beku. Permukaan laut menjadi lebih rendah 100 m dibandingkan
permukaan saat ini. Pada saat itulah muncul pulau-pulau baru.
Adanya pulau-pulau itu memudahkan mahkluk hidup berpindah
dari Asia menuju kawasan Oseania.
Bangsa Melanesoid melakukan perpindahan ke timur hingga
ke Papua, selanjutnya ke Benua Australia, yang sebelumnya
merupakan satu kepulauan yang terhubung dengan Papua. Bangsa
38 Kelas X SMA/MA/SMK/MAK Edisi Revisi Semester 1
Melanesoid saat itu hingga mencapai 100 ribu jiwa meliputi wilayah
Papua dan Australia. Peradaban bangsa Melanesoid dikenal dengan
paleotikum.
Pada saat masa es berakhir dan air laut mulai naik lagi pada
tahun 5000 S.M, kepulauan Papua dan Benua Australia terpisah
seperti yang dapat kita lihat saat ini. Pada saat itu jumlah penduduk
mencapai 0,25 juta dan pada tahun 500 S.M. mencapai 0,5 jiwa.
Asal mula bangsa Melanesia, yaitu Proto Melanesia merupakan
penduduk pribumi di Jawa. Mereka adalah manusia Wajak yang
tersebar ke timur dan menduduki Papua, sebelum zaman es
berakhir dan sebelum kenaikan permukaan laut yang terjadi pada
saat itu. Di Papua manusia Wajak hidup berkelompok-kelompok
kecil di sepanjang muara-muara sungai. Mereka hidup dengan
menangkap ikan di sungai dan meramu tumbuh-tumbuhan serta
akar-akaran, serta berburu di hutan belukar. Tempat tinggal mereka
berupa perkampungan-perkampungan yang terbuat dari bahanbahan
yang ringan. Rumah-rumah itu sebenarnya hanya berupa
kemah atau tadah angin, yang sering didirikan menempel pada
dinding gua yang besar. Kemah-kemah dan tadah angin itu hanya
digunakan sebagai tempat untuk tidur dan berlindung, sedangkan
aktifitas lainnya dilakukan di luar rumah.
Bangsa Proto Melanesoid terus terdesak oleh bangsa Melayu.
Mereka yang belum sempat mencapai kepulauan Papua melakukan
percampuran dengan ras baru itu. Percampuran bangsa Melayu
dengan Melanesoid menghasilkan keturunan Melanesoid-Melayu,
saat ini mereka merupakan penduduk Nusa Tenggara Timur dan
Maluku.
4. Negrito dan Weddid
Sebelum kedatangan kelompok-kelompok Melayu tua dan
muda, negeri kita sudah terlebih dulu kemasukkan orang-orang
Negrito dan Weddid. Sebutan Negrito diberikan oleh orang-orang
Spanyol karena yang mereka jumpai itu berkulit hitam mirip dengan
jenis-jenis Negro. Sejauh mana kelompok Negrito itu bertalian darah
Sejarah Indonesia 39
dengan jenis-jenis Negro yang terdapat di Afrika serta kepulauan
Melanesia (Pasifik), demikian pula bagaimana sejarah perpindahan
mereka, belum banyak diketahui dengan pasti.
Kelompok Weddid terdiri atas orang-orang dengan kepala
mesocephal dan letak mata yang dalam sehingga nampak seperti
berang; kulit mereka coklat tua dan tinggi rata-rata lelakinya 155
cm.Weddid artinya jenis Wedda yaitu bangsa yang terdapat di Pulau
Ceylon (Srilanka). Persebaran orang-orang Weddid di Nusantara
cukup luas, misalnya di Palembang dan Jambi (Kubu), di Siak (Sakai)
dan di Sulawesi pojok tenggara (Toala, Tokea dan Tomuna).
Periode migrasi itu berlangsung berabad-abad, kemungkinan
mereka berasal dalam satu kelompok ras yang sama dan dengan
budaya yang sama pula. Mereka itulah nenek moyang orang
Indonesia saat ini.
Sekitar 170 bahasa yang digunakan di Kepulauan Indonesia
adalah bahasa Austronesia (Melayu-Polinesia). Bahasa itu kemudian
dikelompokkan menjadi dua oleh Sarasin, yaitu Bahasa Aceh dan
bahasa-bahasa di pedalaman Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Kelompok kedua adalah bahasa Batak, Melayu standar, Jawa, dan
Bali. Kelompok bahasa kedua itu mempunyai hubungan dengan
bahasa Malagi di Madagaskar dan Tagalog di Luzon. Persebaran
geografis kedua bahasa itu menunjukkan bahwa penggunanya
adalah pelaut-pelaut pada masa dahulu yang sudah mempunyai
peradaban lebih maju. Di samping bahasa-bahasa itu, juga terdapat
bahasa Halmahera Utara dan Papua yang digunakan di pedalaman
Papua dan bagian utara Pulau Halmahera.
Dalam bahasan di atas kita telah membahas tentang teori
asal usul nenek moyang Indonesia. Selama ini kita ketahui bahwa
Proto Melayu, Deutero Melayu, dan Melanesoid tidak menunjukkan
hubungan geneologis, bahkan ada yang berpendapat keberadaan
mereka ada karena pergantian populasi. Namun berdasarkan
penelitian baru yang melibatkan ahli arkeologi, genetika, dan
bahasa, ternyata asal-usul nenek moyang Indonesia berasal dari
persamaan budaya, bahasa, dan dua atau lebih populasi keturunan
sehingga menghasilkan teori baru yaitu Teori Out of Africa dan
Out of Taiwan.
5. Teori Out of Africa dan Out of Taiwan
Dalam tinjauan akademis yang komprehensif tentang asalusul
nenek moyang Indonesia, maka terlihatlah bahwa betapa
eratnya keterkaitan dinamika sejarah Melanesia dengan bumi
Nusantara. Mungkin kita akan bertanya, siapakah yang dimaksud
Untuk lebih jelasnya kamu dapat membaca buku Bernard
H.M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia
dengan Melanesia itu? Kata Melanesia diperkenalkan pertama
kali oleh Dumont d’Urville seorang penjelajah berkebangsaan
Perancis untuk menyebut wilayah etnik penduduk yang berkulit
hitam dan berambut keriting di kawasan Pasifik, dalam pertemuan
Geography Society of Paris pada tanggal 27 Desember 1831.
Menurut Harry Truman, Pada sekitar 60.000 tahun yang lalu
ada sekelompok orang yang dengan semangat keberaniannya
melintasi selat-selat dan laut hingga mencapai Kepulauan
Nusantara. Mereka adalah Homo sapiens yang dalam buku
literatur disebut sebagai Manusia Modern Awal. Ketika berangkat
dari tanah asalnya yaitu Afrika, mereka tidak mempunyai tempat
tujuan. Teori ini oleh para ahli disebut sebagai Teori Out of
Africa. Dalam pikiran mereka yang ada hanyalah, bagaimana
mereka dapat menemukan ladang kehidupan baru yang lebih
menjanjikan. Mereka beruntung dalam pengembaraannya segala
rintangan alam dapat diatasi, dari generasi ke genarasi mereka
mencapai wilayah-wilayah penghidupan yang baru. Di tempat
baru itu mereka mengeksplorasi sumberdaya lingkungan yang
tersedia untuk mempertahankan hidup. Mereka meramu dari
berbagai umbi-umbian dan buah-buahan yang ada di wilayah itu.
Hewan-hewan juga diburu untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka. Untuk keperluan itu maka dibuatlah peralatan dari batu
dan bahan organik, seperti kayu dan bambu.
Waktu terus berlalu, perubahan alam karena iklim dan
geografi juga populasi yang terus bertambah, mendorong mereka
untuk mencari wilayah hunian baru. Perlahan tetapi pasti mereka
mengembara mencari tempat hunian baru. Mereka kemudian
menyebar hingga ke wilayah timur kepulauan Indonesia, bahkan
meluas hingga mencapai Melanesia Barat dan Australia, wilayah
geografi hunian mereka pun semakin meluas.
Pengalaman yang diperoleh selama mereka mengembara
itu menjadi pengetahuan, yang selanjutnya pengetahuan itu
diturunkan dari generasi ke generasi. Kemampuan berlayar dan
membuat rakit, serta teknik-teknik membuat alat transportasi laut
yang lebih kuat dan nyaman. Begitu pula dengan pengetahuan
perbintangan untuk menunjukkan arah saat berlayar. Pengalaman
untuk menaklukkan ekosistem daratan, sehingga mereka mampu
untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ekologi yang berbedabeda.
Pengalaman itu menjadi pengetahuan-pengetahuan baru
untuk memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan yang
baru.
Pada saat berakhirnya zaman es sekitar 12.000 tahun yang
lalu, menyebabkan perubahan besar dalam berbagai hal. Kenaikan
muka laut yang dratis mendorong penduduk di kepulauan
Indonesia melakukan persebaran ke berbagai arah. Persebaran
mereka ini juga telah merubah peta hunian mereka. Kondisi alam
yang saat itu mendukung, semakin meyakinkan mereka untuk
menetap ditempat hunian yang baru itu. Alam tropis dengan
biodiversitasnya menyediakan kebutuhan hidup sehingga populasi
terus meningkat.
Para ahli menggolongkan mereka sebagai Ras
Australomelanesid. Mereka kemudian hidup menyebar ke guagua.
Seiring dengan semakin berkembangnya zaman, kebutuhan
nenek moyang kita ini juga semakin meningkat. Teknologi untuk
mempermudah kehidupan mereka juga semakin berkembang.
Peralatan dari batu semakin beragam, peralatan dari bahan organik
pun semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Keanekaragaman dalam peralatan manusia pada saat itu semakin
mendorong produktivitas hingga semakin membawa kemajuan
dalam berbagai bidang. Kemajuan dalam bidang seni pada saat
itu ditandainya terdapat lukisan-lukisan cadas yang terdapat di
dinding gua-gua yang memanifestasikan kekayaan alam pikiran.
Kepercayaan pada kehidupan sesudah mati juga terkonsepsi
dalam perilaku kubur terhadap orang yang meninggal.
Kemudian pada sekitar 4000 – 3000 tahun yang lalu,
kepulauan Indonesia kedatangan orang-orang baru. Mereka ini
membawa budaya baru yang seringkali disebut dengan budaya
Neolitik. Budaya ini sering dicirikan dengan kehidupan yang
menetap dan domestikasi hewan dan tanaman. Pendatang yang
berbicara dengan tutur Austronesia ini diperkirakan datang dari
Taiwan dengan kedatangan awal Sulawesi juga kemungkinan
Kalimantan. Dari sinilah mereka kemudian menyebar ke berbagai
pelosok Kepulauan Nusantara. Pendatang yang lain tampaknya
berasal dari Asia Tenggara Daratan. Mereka menggunakan bahasa
Austroasiatik. Mereka ini dapat mencapai Kepulauan Nusantara
bagian barat melalui Malaysia. Teori inilah yang seringkali oleh
para ahli disebut sebagai teori Out of Taiwan. Pertemuan para
pendatang ini dengan populasi Australomelanesia pun tak dapat
dielakkan, sehingga terjadi kohabitasi. Adaptasi dan interaksi
diantara sesama pun terjadi hingga mereka melakukan perkawinan
campuran hingga terjadi interaksi budaya dan dalam beberapa
hal silang genetika pun tak dapat dihindari. Proses interaksi yang
berlanjut memperlihatkan keturunan Ras Australomelanesid yang
sekarang lebih dikenal sebagai populasi Melanesia.
Pendapat Harry Truman tersebut dikuatkan oleh hasil
penelitian yang dilakukan oleh Herawati Sudoyo. Dalam studi
genetika terbaru menunjukkan bahwa, genetika manusia
Indonesia saat ini kebanyakan adalah campuran, berasal dari dua
atau lebih populasi moyang. Secara gradual, presentasi genetikan
Austronesia lebih dominan di bagian timur Indonesia. Sekalian kecil
porsinya, genetika Papua ada hampir di seluruh wilayah bagian
barat Indonesia. Hal ini menunjukkan, bahwa di masa lalu terjadi
percampuran genetika dibandingkan penggantian populasi.
Demikian pula dari sudut penggunaan bahasa, kepulauan
Indonesia yang mempunyai lebih dari 700 etnis, dengan 706
bahasa daerah dapat digolongkan dalam dua bagian, yaitu
penutur Austronesia dan non-Austronesia atau lebih sering
disebut sebagai Papua. Multamia RMT Lauder menjelaskan bahwa
telah terjadi pinjam-meminjam leksikal antara bahasa-bahasa
non-Austronesia dengan Austronesia. Diperkirakan lebih dari 30
% dari semua bahasa yang hidup saat ini adalah bahasa
Austronesia. Rumpun bahasa Austronesia cenderung ditemukan
di daerah pesisir, tetapi ini tidak selalu. Bahasa Austronesia juga
dapat ditemukan di daerah pedalaman Papua Nugini.
Gambaran itu menunjukkan adanya pola migrasi yang
kompleks tetapi jelas, yaitu dari barat ke timur. Berdasarkan data
itu nyatalah bahwa hubungan Austronesia dan Non-Austronesia
bagaikan sebuah kain tenun yang benang-benangnya saling
terjalin indah.