Cara kerja Naturalisme dan Idealisme masing-masing memiliki pola tersendiri,
meskipun keduanya merupakan buah tangan bangsa Yunani. Naturalisme dengan
micro-atomisme dan macro-atomisme mewujud menjadi kolektivisme dan
individualisme.
Macro-atomisme secara universal tidak tampak secara
keseluruhantetapi secara individu, oleh Socrates dikatakan yang kuat menentukan
yang lemah seperti halnya matahari dan manusia kemudian mewujud kepada gerak
individualisme.
Sedangkan micro-atomisme mengambil objek study dari jasad
dimana atom-atom dikiaskan pada organ-organ tubuh kemudian tegaklah kolektivisme
dimana hak individu lebur yang dikoordinir oleh suatu lembaga.
Mereka
sesungguhnya penyembah-penyembah “Hukum Alam”. Seperti yang terungkap oleh
beberapa filusuf Yunani sebagai berikut:
1. Anaximandros (610-547 SM),
seorang filusuf Yunani yang berpendapat bahwa “asal alam itu satu, tetapi bukan
air akan tetapi “Apeiron” yang tidak ada persamaannya di muka bumi ini, berbeda
dengan pendapat gurunya Thales (640-545 SM) yang berpendapat bahwa “asal alam
ini adalah air”.
2. Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa “asal
alam ini adalah udara”.
Sementara itu, faham Idealisme diperkenalkan oleh
filusuf Yunani Plato (427-348 SM), dan ia merupakan murid dari Socrates yang
sesungguhnya telah merintis faham idealisme terlebih dahulu dengan filsafatnya
yang terkenal “Kenali dirimu dengan dirimu sendiri” yang bermakna bahwa pada
asalnya manusia itu tiada mengetahui sesuatu, dan setelah belajar dan berfikir
barulah ia mengetahui sesuatu.
Pendapat Socrates tersebut sebagai
bantahan faham Naturalisme dengan tidak mencari kebenaran pada bumi, langit,
udara, air, api, uap dan sebagainya. Dr. Abu Hanifah dalam bukunya “Rintisan
Filsafat” menyebutkan bahwa “Idealis” diambil dari perkataan “Idee” yang asal
mulanya dari Plato.
Socrates dan Plato berpendapat bahwa jiwa manusia
itu penuh dengan kebenaran dan seluruh pengetahuan pada hakekatnya telah kita
ketahui karena sebelum kita lahir ruh/jiwa manusia sudah mengalami kebenaran
asli walaupun kita belum mengalaminya dan ini terletak di dalam hati sanubari
kita, Jiwa itu menghimpunkan segala sesuatu. Siapa yang mengenal dirinya
dapatlah ia mengenal segala sesuatu dan siapa yang tidak mengenal dirinya,
tidaklah dapat ia mengenal sesuatu.
Alam pikiran Yunani tersebut menjadi
inspirasi dan memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan faham dan
agama-agama atau kebudayaan di dunia. Singkatnya, alam pikir Yunani dengan
Idealisme dan Naturalisme sebagai mutiara kekayaannya, yang dianggap menjadi
sumber kebudayaan/peradaban abad ke-20 ialah sudut memandang ilmu yang
menyebabkan manusia menjadi subjek untuk menaklukan yang lain menjadi
objeknya.
Pola pikir mereka seperti itulah yang memandang bahwa ilmu
bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari dalam diri mereka dan juga pantulan yang
mereka peroleh dari alam .