ISRA’ MI’RAJ RASULULLAH
KAUM MUSLIMIN DAN KAFIR MENYIKAPINYA
I. PRAKONDISI ISRA’
MI’RAJ
Seperti yang telah diterangkan
sebelumnya, bahwa dengan wafatnya Abu Thalib –paman Rasulullah saw- disusul
dengan wafat Khadijah ra –iasteri Rasulullah saw. Kaum Quraisy mulai dapat
mengganggu langsung Rasulullah saw, dan semakin besar penganiayaan mereka
kepada para sahabat, sehingga memaksa Rasulullah saw pergi ke Thaif, mengajak
mereka kepada Allah, meminta pbantuan dan melindungi dakwahnya.
Rasulullah mendapatinya tidak
lebih baik dari peduduk Makkah, bahkan lebih buruk, dengan menolak dakwahnya,
menyakitinya, sehingga berdarah kedua kakinya, lalu menghadap Rabbnyadengan
do’a yang dipenuhi iman, yakin, dan ridha dengan apa yang menimpanya di jalan
Allah.
Kemudian kembali ke Makkah. Akan
tetapi Rasulullah tidak dapat memasuki Makkah kecuali dengan didampingi oleh Al
Muth’im bin ‘Adiy (seorang musyrik Makkah).
Dalam situasi seperti penuh duka
dan kesedihan inilah Allah swt muliakan Nabinya dengan mukjizat Isra’ mi’raj,
untuk meringankan jiwanya yang terluka, hatinya yang berduka dengan menyaksikan
ayat-ayat besar, tanda-tanda pertolongan Allah kepada dakwahnya. Sehingga
bertambah keyakinan akan ketinggian posisinya di sisi Rabbnya, meyakinkannya
bahwa Allah menjadi Penolongnya. Maka semakin kuatlah azam (tekadnya) semakin
kuat ruhiyahnya, berlanjut menyampaikan risalah Rabbnya, dengan semangat yang
tidak pernah padam.
Dalam mukijizat ini pula terdapat
ujian Allah pada kaum muslimin, sehingga terpilihlah mana yang kuat iman dan
mana yang lemah iman. Ibnu Ishaq berkata:
( . . . كان في
مسراه وما ذكر منه بلاء وتمحيص ، وأمر من أمر الله في قدرته وسلطانه ،فيه عبرة
لأولى الألباب ، وهدى روحمه ، وثبات لمن آمن بالله وصدق ، وكان من أمر الله على
يقين ، فأسرى به كيف يشاء ، وكما شاء ، ليريه من آياته ما أراد ، حتى عاين ما
عاين من أمر الله وسلطانه العظيم ، وقدرته التي يصنع بها ما يريد )
“…dalam perjalanan isra’ dan cerita yang ada di dalamnya
terdapat ujian dan seleksi. Salah satu perintah Allah yang berada dalam
kekuasaan-Nya. Di dalamnya terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir, petunjuk
dan rahmat-Nya, keteguhan bagi yang beriman dan membenarkan. Peristiwa ini
adalah urusan Allah yang harus diyakini. Allah perjalankan sesuai dengan yang
dikehendaki, untuk menunjukkan kepadanya ayat-ayat yang diinginkan. Sehingga
menyaksikan langsung ayat Allah,dan kekuasaan-Nya yang besar, yang dengan
kekuasaan-Nya itu, Allah lakukan apa yang dikehendaki.
II. WAKTU ISRA’
MI’RAJ
Ibnu
Katsir menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Isra’ mi’raj itu terjadi pada
masa sepuluh tahun setelah kenabian.Dan
yang masyhur mengatakan bahwa peristiwa ini terjadi pada malam duapuluh tujuh
bulan rajab
III. PERSIAPAN RASULULLAH SAW UNTUK ISRA MIRAJ
Pada malam Isra’ itu Rasulullah
saw bermalam bersama dengan pamannya –Hamzah bin Abdul Muththalib, anak
pamannya –Ja’fara bin Abi Thalib- di rumah Ummi Hani’ bin Abi Thalib
(pamannya). Lalu Jibril mendatanginya, melewati atap rumah, turun dan mengambil
Rasulullah saw, membawanya ke masjid (masjidilharam) kemudian membaringkannya,
membelah dadanya, dari bawah leher sampai ke bawah perutnya, mengeluarkan
hatinya, membersihkannya dengan air zam-zam, kemudian memenuhinya dengan iman
dan hikmah, lalu mengembalikannya dan tidak ada lagi bekas belahan, tanpa
Rasulullah rasakan sakit. Rasulullah siap untuk perjalanan Isra’ mi’raj,
bertemu dengan Rabbnya pda malam itu.
Hikmah pembelahan dada –padahal
Allah Maha Kuasa untuk memenuhi hatinya denan iman dan hikmah dan membelah-
adalah untuk menambah kekuatan keyakinan. Sebab ketika melihat perutnya telah
terbelah dan tidak merasa sakit, maka semakin yakin bahwa ia akan aman dari
semua bentuk yang biasanya menakutkan. Dari itulah Rasulullah menjadi manusia
yang sangat pemberani.
IV. PELAJARAN
PENTING
1. Isra’
mi’raj adalah penguatan bagi Rasulullah saw dalam pertarungan panjang, dan juga
merupakan salah satu bentuk penghormatan setelah bertahun-tahun dalam
kesulitan, duka, derita, dan penolakan kaumnya.
2. Isra’
mi’raj merupakan ujian bagi kemampuan para sahabat untuk mengungkapkan seberapa
besar jihad (perjuangan) mereka bersama Rasulullah saw
3. Isra’mi’raj
merupakan terapi untuk menghapus keletihan masa lalu, dan meletakkan
benih-benih keberhasilan masa depan yang gemilang.
4. Hukum
dan sunnah alamiah yang menggerakkan langit dan bumi adalah ciptaan Allah.
Allah berikan kepada sebagian hamba-Nya sehingga mampu melakukan hal-hal yang
tidak dapat dikerjakan orang lain.
5. Kekuasaan
Allah tidak akan bisa dibatasi oleh batas apapun, juga tidak akan bisa
terhalangi oleh penghalang apapun
6. Agar
Rasulullah saw melihat ayat-ayat besar dan menambah keyakinannya.
V. PERJALANAN ISRA’
A. Makna Al Isra’
Isra adalah Allah memperjalankan
Nabi Muhammad sa dari masjidil Haram di Makkah ke masjdil Aqsha di Quds, secara
fisik dan ruh, dalam keadaan sadar, lalu kembali ke Makkah dalam sepotong
malam.
Kaum mukminin tidak merasa aneh
dengan hal ini. karena semuanya selesai dengan perintah dan kekuasaan Allah.
Dan Allah swt Maha Kuasa atas segala sesuatu. Firman Allah:
!$yJ¯RÎ) ÿ¼çnãøBr& !#sÎ) y#ur& $º«øx© br& tAqà)t ¼çms9
`ä. ãbqä3usù
ÇÑËÈ
82. Sesungguhnya keadaan-Nya
apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya:
"Jadilah!" Maka terjadilah ia. QS. Yaasiin
B. Dalil
ketetapannya:
Peristiwa ini ditetapkan dengan Al Qur’an, firman Allah:
z`»ysö6ß
üÏ%©!$# 3uó r& ¾ÍnÏö7yèÎ/ Wxøs9 ÆÏiB
ÏÉfó¡yJø9$# ÏQ#tysø9$# n<Î) ÏÉfó¡yJø9$# $|Áø%F{$# Ï%©!$# $oYø.t»t/ ¼çms9öqym
¼çmtÎã\Ï9 ô`ÏB !$oYÏG»t#uä
4
¼çm¯RÎ) uqèd ßìÏJ¡¡9$# çÅÁt7ø9$# ÇÊÈ
1. Maha Suci Allah, yang
Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al
Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya,agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami.
Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. QS. Al Isra
Ditetapkan pula dengan hadits shahih, diantaranya hadits Muttafaq
alaih, AL Bukhari dan Muslim
Dan orang yang mengingkarinya (tidak mempercayainya)
hukumnya kafir, karena mendustakan AL Qur’an dan hadits shahih dari Rasulullah
saw
C. Hikmah Isra ke
Masjidil Aqsha
Isra menuju ke masjidil Aqsha tidak ke masjid lainnya karena
kedudukan dan kemuliaan masjid ini di sisi Allah, untuk menjelaskan hubungan
erat antara para nabi, untuk menjelaskan hubungan antara agama yang mereka bawa
dari Allah. Dalam hal ini pula teradapt isyarat pewarisan rasul terakhir
–Muhammad saw- atas kesucian risalah sebelumnya. Dengan ini maka masjidil Aqsha
dan sekitarnya menjadi tanah Islam, yang harus dijaga oleh kaum muslimin, dan
membebaskannya dari tangan-tangan para penjarah.
D. Kejadian dalam
Isra’
Ketika Jibril usai membedah dada Rasulullah
saw pada malam Isra’ itu, dan mempersiapkan sarana untuk perjalanan mengagumkan
ini dengan Buraq –kendaraan berwarna putih, lebih besar dari keledai, lebih
kecil dari bighal, sangat cepat, jangkauan kaki depannya sejauh pandangan
matanya. Rasulullah saw mengendarainya, didampingi Jibril alaihissalam, lalu
Buraq itu pergi ke Baitul Maqdis. Rasulullah saaw turun. Jibril mengikatnya
lalu masuk masjid, ia bertemu dengan Ibrahim, Musa, dan Isa alaihissalam
bersama dengan sejumlah para nabi, yang telah berkumpul untuk menyambutnya.
Jibril membawanya ke depan mengimaminya shalat dua rakaat. Kemudian keluar dan
Jibril membawakannya dua gelas –satu berisi khamr dan satunya berisi susu- lalu
nabi pilih susu, dan Jibril berkata: اخترت
الفطرة engkau telah memilih
yang fitrah, engkau telah memilih tanda Islam dan istiqamah.
VI. PERJALANAN MI’RAJ
A. Arti Mi’raj
Mi’raj adalah naiknya Rasulullah
saw dengan fisik dan ruhnya dalam keadaan sadar, dari Baitul Maqdis sampai ke
langit ke tujuh, dan seterusnya, kemudian kembali ke Baitul Maqdis, di sebagian
malam yang singkat.
B. Dalil
Ketetapannya
Mi’raj ditetapkan berdasarkan
hadits shahih yang ada dalam shahih Al Bukhariy dan Muslim dan lain-lain dalam
buku-buku hadits yang valid, buku-buku sirah terkenal, buku-buku tafsir yang
ma’tsur.
Terdapat isyarat
dalam surah An Najm:
ôs)s9ur çn#uäu »'s!÷tR
3t÷zé& ÇÊÌÈ
yZÏã
ÍouôÅ 4ygtFZçRùQ$# ÇÊÍÈ $ydyYÏã
èp¨Zy_ #urù'pRùQ$# ÇÊÎÈ
øÎ) Óy´øót nouôÅb¡9$#
$tB 4Óy´øót ÇÊÏÈ
$tB sø#y
ç|Çt7ø9$# $tBur
4ÓxösÛ ÇÊÐÈ ôs)s9 3r&u ô`ÏB ÏM»t#uä
ÏmÎn/u #uö9ä3ø9$# ÇÊÑÈ
1. Dan Sesungguhnya Muhammad Telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,
2. (yaitu) di Sidratil Muntaha
3. Di dekatnya ada syurga tempat
tinggal,
4. (Muhammad melihat Jibril) ketika
Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
5. Penglihatannya (Muhammad) tidak
berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.
6. Sesungguhnya dia Telah melihat
sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. QS. An Njm
C. RINGKASAN
KEJADIAN MI’RAJ
Setelah selesai perjalanan Isra’
diteruskan dengan mi’raj, yang mirip tangga, lalu Nabi naik bersama dengan
Jibril, ke langit dunia, kemudian ke langit berikutnya. Setiap penghuni langit
menyambutnya, para nabi yang ada di setiap langit memberikan salam kepadanya.
Adam di langit pertama, Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya di langit kedua,
Idris di langit keempat, Harun di langit keempat, Musa di langit keenam, dan
Ibrahim di langit ketujuh. Kemudian setelah melintasi mereka sehingga sampai di
langit ke tujuh, dan melihat sidratul muntaha di sana. Di sinilah berhenti ilmunya para
malaikat. Di sinilah Jibril berhenti, dan Rasulullah saw maju melewatinya
sehingga dekat dengan Allah. Tidak ada yang pernah melintasinya selain
Rasulullah saw.
Pada malam itu Rasulullah saw
melihat Jibril dalam bentuk aslinya. Inilah kali kedua melihat Jibril dalam
bentuk asli. Di sinilah Allah swt berfirman:
ôs)s9ur çn#uäu »'s!÷tR
3t÷zé& ÇÊÌÈ
yZÏã
ÍouôÅ 4ygtFZçRùQ$# ÇÊÍÈ
13. Dan Sesungguhnya
Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain,14. (yaitu) di Sidratil Muntaha . QS. An Najm.
Kali pertama terjadi setelah masa
fatrah (jeda) wahyu. Allah berfirman:
ôs)s9ur çn#uäu È,èùW{$$Î/ ÈûüÎ7çRùQ$# ÇËÌÈ
23. Dan Sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril
di ufuk yang terang. QS. At Takwir
Pada malam itu juga Rasulullah
saw melihat Baitul Ma’mur, surga dan neraka, Allah wajibkan shalat limapuluh
waktu, kemdian diringankan sampai lima
waktu, sebagai salah satu bentuk rahmat dan kelembutan Allah kepada hamba-Nya
Hal ini menunjukkan perhatian
besar terhadap kemuliaan shalat, menunjukkan hikmah disyariatkannya. Sepertinya
Allah mengatakan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman: Jika mi’raj rasul kalian
dengan fisik dan ruhnya ke langit sebagai mukjizat, maka hendaklah setiap hari
kalian lima
kali mi’raj dengan ruh dan hati kalian kepada-Ku, sehingga bersih dari maksiat
dan dosa. Dan ini adalah buah yang sangat besar dari shalat
cÎ) no4qn=¢Á9$# 4sS÷Zs?
ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# Ìs3ZßJø9$#ur
45. …
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.
QS. Al Ankabut
Kemudian Rasulullah turun dari
langit ke Baitul Maqdis naik buraq kembali ke Makkah, ketika malam masih gelap
dan mulai bercampur dengan cahaya shubuh.
D. PELAJARAN
PENTING
·
Perjalanan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha
adalah plihan dari Allah Yang Maha Lembut, Maha Memberitakan, untuk
menghubungkan antara akidah tauhid besar dari masa Nabi Ibrahim dan Ismail alaihissalam
sampai pada masa Muhammad saw penutup para Nabi. Menghubungkan antara tempat
suci bagi semua agama tauhid. Penobatan Rasulullah sebagai pewaris dari para
rasul sebelumnya. Muatan risalahnya yang berhubungan erat dengan semua risalah
sebelumnya yang mencerminkan bentangan panjang melintasi ruang waktu, mencakup
manhaj yang lebih luas.
·
Allah swt menunjukkan dengan cara ini bahwa Isra
hanya ke baitul maqdis karena Yahudi akan terusir dari peta kepemimpinan umat
manusia karena kejahatan yang mereka lakukan, sehingga mereka tidak layak lagi
berada pada posisi itu. Dan Allah swt akan memindahkan posisi ini kepada
Rasulullah saw dan mengumpulkan pusat-pusat dakwah Ibrahimiyyah semuanya. Sudah
sampai waktunya perpindahan dakwah dari umat yang sejarahnya penuh dengan
tipuan, pengkhianatan, dosa, dan permusuhan kepada umat yang memancarkan
kebaikan dan kebajikan
·
Isra
’ mi’raj menegaskan sifat Islam yang
fitri. Dan sesungguhnya kebersihan hati adalah esensi Islam. Dan fitrah yang
rendah adalah seperti mata air kotor yang hanya akan menghasilkan kotoran dan
keburukan.
·
Nil
dan Furat adalah bukti bahwa risalah Islam akan membentang di muka bumi,
memakmurkan lembah-lembah yang subur. Nil dan Furat mencakup lembah
majusi Persia
dan sebagian Romawi
·
Baitul Maqdis melahirkan para nabi secara
beruntun, saling mendukung dakwah Ibrahim alaihissalam
·
Para nabi menunggu kedatangan Nabi Muhammad
(penutup) semua nabi, agar menjadi imam dalam shalat jamaahnya, menggambarkan
peran sentral dan ajaran yang dibawanya kepada seluruh alam untuk dilaksanakan,
yaitu menyembah Allah Yang Maha Esa dan Maha Tinggi
·
Nabi Muhammad menyempurnakan bangunan, dan
menjadi batu terakhir dalam bangunan kenabian. Menyempurnakan agama dan membawa
umat manusia seluruhnya.
VII. RASULULLAH SAW MENGHADAPI REAKSI KAUMNYA ATAS APA YANG
DILIHATNYA
Rasulullah saw kembali ke rumah
Ummu Hani’, menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya kepada Ummu Hani’.
Kemudian ia bangkit memberitahukan hal ini kepada umat manusia. Ummu Hani
berusaha untuk mencegahnya. Memintanya untuk tidak membicarakan hal ini, takut
mereka akan mendustakannya, karena peristiwan ini sangat aneh. Rasulullah saw
tidak terpengaruh dengan hal ini, dan dengan terang-terangan ia sampaikan hal
ini kepada kaumnya, untuk membuka mata
mereka akan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya, membuktikan kedudukannya di sisi
Rabbnya, tidak takut pendustaan dan cemoohan mereka. Karena tsiqahnya dengan
risalah yang dibawanya, dan kebenaran yang dialaminya malam itu membuatnya
memutuskan dengan tekad bulat untuk terbuka menyampaikan peristiwa itu kepada
kaumnya, apapun pandangan dan sikap
mereka.
Hal ini menjadi teladan bagi
ashabudda’wah, belajar berani dalam menyatakan kebenaran. Ia tidak takut
posisinya di hati umat manusia. Tidak menyembunyikannya hanya karena ingin
selalu dekat dengan mereka. Firman Allah:
úïÏ%©!$#
tbqäóÏk=t7ã ÏM»n=»yÍ «!$# ¼çmtRöqt±øsur wur
tböqt±øs #´tnr& wÎ) ©!$#
3
4s"x.ur «!$$Î/ $Y7Å¡ym ÇÌÒÈ
39. (yaitu) orang-orang yang menyapaikan
risalah-risalah Allah,mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun)
selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan. QS. AL
Ahzab
VIII. SIKAP KAUM
KAFIR TERHADAP ISRA’ MI’RAJ
Rasulullah saw keluar di pagi
hari ke tempat berkumpulnya kaum Quraisy. Ketika Abu Jahal sudah datang,
Rasulullah saw menceritakan pengalamannya itu. Maka Abu Jahal berkata: يا
بني كعب بن لؤي هلموا Wahai Bani Ka’b bin Lu’aiy kemarilah,
Setelah kafir Quraisy berkumpul Rasulullah sampaikan
kejadian yang baru saja dialaminya. Ada
di antara mereka yang bertepuk tangan, ada yang memegang kepalanya, karena aneh
dan tidak percaya.
Kemudian mererka menguji Rasulullah saw; mereka ada
yang memintanya menerangkan tentang Baitul Maqdis, da antara mereka ada yang
pernah melihatnya ketika mereka berdagang ke Syam. Sedangkan Rasulullah saw
belum pernah melihat sebelumnya, dan tidak sempat memperhatikan sifat-sifatnya
ketika berada di sana.dari itulah Rasulullah saw sangat tegang, tidak pernah
setegang itu sebelumnya. Lalu Allah swt hadirkan Masjidil Aqsha itu, sehingga
dapat menerangkannya dari satu pintu ke pintu lainnya, dari satu tempat ke
tempat lain.
Mereka berkata: Penjelasannya tepat sekali. Kemudian mereka menanyakan
tentang rombingan dagang mereka yang baru sampai di Syam. Rasulullah saw
menerangkan jumah onta dan keadaan mereka di sana.
Rasulullah mengatakan kepada mereka: Mereka akan tiba pada hari …,
bersamaan dengan terbitnya matahari, didahului oleh onta berwarna abu-abu.
Lalu mereka pada hari itu segera keluar dan menunggu rombongan dagang,
untuk membuktikan kebenaran cerita Muhammad saw. Ketika mereka sedang
menunggu, ada seseorang yang berkata:
هذه
والله الشمس قد أشرقت ، فقال آخر : وهذه والله العيرُ قد أقبلت ، يقدمها جمل
أورَقُ ، كما قال محمد ، ثم لم يزدهم ذلك إلا كبراً وعناداً ، حتى قالوا : هذا سحر
مبين
Demi Allah, sekarang matahari telah terbit, dan yang lain
mengatakan: Demi Allah, dan kafilah dagang telah tiba, terdepan onta berwarna
abu-abu seperti yang telah Muhammad sampaikan. Kemudian hal ini tidak menambah
mereka kecuali sikap sombong dan durhaka. Sehingga mereka berkata: Ini
jelas-jelas sihir.
VIII. SIKAP KAUM
MUSLIMIN TERHADAP ISRA’ MI’RAJ
Beberapa perawi menyebutkan bahwa
ada beberapa orang yang lemah iman murtad meninggalkan agamanya. Karena hati
dan akal mereka tidak sanggup menerima hal ini. mereka tidak percaya karena
belum mampu memahaminya. Kepada mereka inilah firman Allah diturunkan:
øÎ)ur $uZù=è% s9 ¨bÎ)
/u xÞ%tnr& Ĩ$¨Z9$$Î/ 4
$tBur
$uZù=yèy_
$töä9$# ûÓÉL©9$# y7»oY÷ur& wÎ)
ZpuZ÷FÏù Ĩ$¨Z=Ïj9 notyf¤±9$#ur
sptRqãèù=yJø9$# Îû Èb#uäöà)ø9$#
4
öNßgèùÈhqséUur $yJsù
öNèdßÌt wÎ) $YZ»uøóèÛ #ZÎ7x. ÇÏÉÈ
60. Dan (ingatlah), ketika kami wahyukan
kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". dan
kami tidak menjadikan mimpi yang Telah kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan
(begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. dan kami menakut-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah
besar kedurhakaan mereka. QS. Al Isra’:60
Dari Ibnu Abbas ra berkata:
أسري
بالنبي r ـ إلى بيت المقدس ، ثم جاء من ليلته ، فحدثهم بمسيرة ، وبعلامة
بيت المقدس وبعيرهم ، فقال ناس : نحن لا نُصدق محمداً بما يقول ، فارتدوا كفاراً ،
فضرب الله رقابهم مع أبي جهل
Rasulullah saw isra’ ke Baitul Maqdis, kemudian pada malam
itu datang dan menceritakan pengalaman perjalanannya, ciri-ciri Baitul Maqdis dan
rombongan dagang mereka. Ada
sebagian orang yang berkata: Kami tidak akan membenarkan ucapan Muhammad.
Kemudian mereka murtad –kembali kafir, sehingga Allah penggal leher mereka
bersama dengan Abu Jahal.
Sedangkan kaum mukminin lainnya,
yang Allah lapangkan dadanya, Allah terangi hatinya, sehingga mereka tetap
teguh dalam iman, membenarkan Rasulullah saw –dan yang terdepan dalam hal ini
adalah Abu Bakr ra-
Dari Aisyah ra berkata:
لما أُسرى بالنبي r ـ
إلى المسجد الأقصى أصبح يُحدث الناس بذلك ، فأرتد ناس ممن كانوا آمنوا به وصدقوه ،
وسعوا بذلك إلى أبي بكر ، فقالوا : هل لك في صاحبك ؟ يزعم أنه أسرى به الليلة إلى
بيت المقدس .
فقال : أو قال ذلك ؟ قالوا : نعم .
قال : لئن كان قال ذلك لقد صدق .
قالوا : تصدقه أنه ذهب الليلة إلى بيت
المقدس وجاء قبل أن يصبح ؟
قال :نعم ، إني لأصدقه بما هو أبعد من ذلك
، أصدقه بخبر السماء ، في غدوة أو روحه
فلذلك
سُمي " أبو بكر الصديق "
Ketika Rasulullah saw isra ke masjdil Aqsha, pagi harinya ia
sampaikan kepada orang-orang. Lalu ada sebagian orang yang telah beriman
murtad padahal sebelumnya telah percaya
dan membenarkannya. Mereka segera menemui Abu Bakr dan bertanya: Apakah engkau
telah mendengar sahabatmu? Yang mengaku telah diperjalankan ke Baitul Maqdis
malam tadi:
Abu Bakar bertanya : Betulkan ia mengatakan hal itu
Mereka mejawab: Ya, betul
Kata Abu Bakr :Jika ia yang mengatakan hal itu, pasti benar
Mereka berkata : Kamu membenarkannya telah pergi malam tadi
ke Baitul Maqdis kemudian sebelum subuh sudah tiba kembali?
Kata Abu Bakar: Sesungguhnya aku telah membenarkan yang
lebih aneh dari itu, aku membenarkannya yang menerima berita dari langit,
ketika pagi atau sore. Dari itulah ia disebut “Abu Bakr ash Shiddiq”
IX. PELAJARAN
BERHARGA
·
Seorang da’I tidak boleh takut kecuali kepada
Allah. Tidak terpengaruh oleh banyaknya pendukung atau sedikit, dalam
membuktikan imannya kepada kebenaran yang didakwahkannya
·
Menyatakan kebenaran tanpa takut dan bimbang
adalah kewajiban da’I yang tidak takut kecuali kepada Allah
·
Ahlul Batil –selamanya di di manapun ia berada-
akan melecehkan para penyeru kebenaran, sepertinya Abu Jahal masih berada di
tengah-tengah mereka sekarang ini.
·
Allah
swt tidak akan pernah kekurangan da’I. dan Allah akan berikan pertolongan-Nya
·
Meskipun
telah terdapat dalil dan bukti, ahlul batil akan selalu mereka yasa, dan iri
kepada para pengikut kebenaran yang tidak diragukan lagi
·
Allah
swt menguji barisan kaum muslimin, untuk mengangkat derajat ahlusshidqi wal
iman, meninggikan posisinya. Sebagaimana Allah merendahkan posisi
orang-orang yang berjiwa lemah.
.